Sinergi Biru: Mengubah Wajah Samudra Indonesia Menjadi Raksasa Ekonomi Hijau 2025-2035
- Roni Adi
- Jan 7
- 3 min read

Indonesia sering disebut sebagai zamrud khatulistiwa, namun harta karun terbesarnya sebenarnya bukan terletak di daratan, melainkan di hamparan laut birunya yang luas. Sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua secara global, Indonesia kini berada di ambang revolusi besar. Melalui strategi Sinergi Biru, semestinya kita tidak lagi hanya melihat laut sebagai jalur transportasi atau sumber perikanan tradisional, melainkan sebagai mesin utama untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.
Bagaimana masa depan laut kita dalam satu dekade ke depan? Mari kita bedah tiga pilar utama yang akan mengubah ekonomi Indonesia menjadi lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan.
1. Angin Lepas Pantai: Memanen Energi dari Langit di Atas Samudra
Saat ini, dunia sedang berlomba-lomba membangun turbin angin di tengah laut. Pada akhir 2024, kapasitas angin lepas pantai global telah mencapai 83 GW, dengan China sebagai pemimpin utamanya. Indonesia, dengan potensi teknis angin yang mencapai lebih dari 60 GW, memiliki peluang emas untuk menyusul.
Evolusi Raksasa Turbin
Teknologi turbin angin telah berkembang pesat. Jika pada era 2010-an satu turbin hanya mampu menghasilkan 3-5 MW, kini standar barunya adalah 15 MW, bahkan prototipe masa depan bisa mencapai 26 MW. Bayangkan satu kincir angin raksasa yang tingginya melampaui gedung pencakar langit, mampu memasok listrik untuk ribuan rumah sekaligus.
Terobosan Turbin Terapung (Floating Offshore Wind)
Salah satu tantangan di Indonesia adalah lautnya yang dalam di banyak wilayah. Di sinilah teknologi Floating Offshore Wind (FOW) atau angin lepas pantai terapung menjadi solusi. Alih-alih menanam fondasi di dasar laut (yang hanya efektif pada kedalaman kurang dari 60 meter), turbin terapung menggunakan platform yang diikat dengan sistem tambat canggih ke dasar samudra. Ini memungkinkan kita memanen angin di area yang lebih jauh ke tengah laut, di mana hembusan angin jauh lebih stabil dan kuat.
2. Sumber Daya Hayati: Alga, Sang Penyelamat Iklim dan Pangan
Selain energi, laut kita adalah pabrik biologis raksasa. Fokus utama riset saat ini, yang juga dipimpin oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), adalah pemanfaatan alga dan rumput laut.
Alga sebagai Bahan Bakar Pesawat
Dilema "pangan vs bahan bakar" sering terjadi pada biofuel berbasis darat (seperti sawit). Mikroalga menawarkan solusi cerdas: mereka bisa tumbuh tanpa air tawar dan tanpa lahan subur. Melalui teknologi Likuifaksi Hidrotermal (HTL), bubur alga basah dapat diubah langsung menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat ramah lingkungan. Pasar global untuk inovasi ini diprediksi akan meledak hingga US$ 18,64 miliar pada tahun 2032.
Mesin Penyerap Karbon Alami
Rumput laut bukan sekadar bahan agar-agar. Pertanian rumput laut skala besar terbukti menjadi strategi efektif untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Di lokasi optimal, rumput laut dapat menyerap hingga 8,99 ton CO2 per hektar setiap tahunnya. Selain itu, mereka berfungsi sebagai "biofilter" yang membersihkan laut dari polusi nitrogen dan melindungi ekosistem dari pengasaman laut.
3. Resiliensi Pesisir: Melindungi Masa Depan dengan Alam
Selama puluhan tahun, kita terbiasa melawan ombak dengan beton—seperti tanggul laut (seawall). Namun, pendekatan ini seringkali justru merusak habitat dan membutuhkan biaya perawatan yang sangat mahal.
Strategi Ekonomi Biru Indonesia kini beralih ke Ecosystem-based Approaches (EbA). Dibandingkan beton, restorasi hutan mangrove dan terumbu karang jauh lebih efektif dalam meredam energi gelombang secara alami. Mangrove tidak hanya melindungi warga pesisir dari abrasi, tetapi juga menjadi tempat pembibitan ikan dan penyerap karbon yang andal.
Inovasi Masa Depan: Platform Multi-Guna (MUP)
Puncak dari sinergi ini adalah Multi-Purpose Platforms (MUP). Bayangkan sebuah struktur raksasa di tengah laut yang menggabungkan turbin angin lepas pantai di bagian atas dan sistem budidaya ikan atau rumput laut di bagian bawahnya.
Konsep ini sudah mulai diuji coba, seperti di China dengan platform 'Guoneng Sharing'. Keuntungannya luar biasa: penghematan biaya operasional karena berbagi kapal pemeliharaan dan sistem tambat, serta penggunaan ruang laut yang jauh lebih efisien. Pendapatan dari hasil laut ini bahkan bisa mencapai 73-85% dari nilai listrik yang dihasilkan.
Tantangan dan Peta Jalan Menuju 2035
Tentu saja, perjalanan ini tidak mudah. Ada risiko teknis seperti beban ekstrem dari ombak besar dan dilema etis seperti penambangan laut dalam untuk mencari mineral baterai (nikel, kobalt).
Namun, pemerintah telah mengambil langkah berani dengan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 10/2025. Aturan ini memberikan insentif kunci, termasuk menurunkan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk proyek angin menjadi sekitar 15% agar teknologi turbin tercanggih bisa masuk ke Indonesia dengan lebih cepat.
Kunci lainnya adalah pembangunan 'Supergrid' Nasional, jaringan interkoneksi listrik raksasa yang akan menyalurkan energi bersih dari pusat-pusat potensi di luar Jawa (seperti Kepulauan Riau dan Laut Arafura) menuju pusat industri di Jawa dan Bali.
Penutup
Indonesia memiliki mandat geografis untuk memimpin revolusi industri hijau di laut. Dengan konsistensi kebijakan, riset dari lembaga seperti BRIN, dan dukungan masyarakat, visi 2035 bukan lagi sekadar impian. Laut kita adalah masa depan kita. Mari kita ubah potensi biru ini menjadi kekuatan ekonomi nyata bagi generasi mendatang.



Comments