Betawi: Dari Jantung Revolusi Hingga Terhimpit di Tanah Sendiri
- Roni Adi
- Jan 20
- 6 min read

Pernah terbayang tidak, bagaimana rasanya menjadi "pemilik rumah" yang perlahan-lahan merasa jadi tamu di rumahnya sendiri? Itulah potret masyarakat Betawi di Jakarta saat ini. Kalau kita jalan-jalan ke Sudirman atau Kuningan, yang kita lihat adalah gedung pencakar langit dan kemacetan luar biasa. Tapi di balik beton-beton itu, ada cerita panjang tentang sebuah suku yang lahir dari percampuran budaya dunia, berjuang mati-matian demi kemerdekaan Indonesia, namun kini harus berjuang lagi agar identitasnya tidak luntur ditelan zaman.
Mari kita obrolkan lebih dalam tentang perjalanan "Si Punya Jakarta" ini—dari asal-usulnya yang unik sampai nasib mereka setelah ibu kota resmi pindah nanti.
1. Betawi: Sebuah "Gado-Gado" Budaya yang Luar Biasa
Ada 2 pendapat mengenai asal-usul orang Betawi. Berdasarkan arkeolog UI, Dr. Hasan Djafar, bahwa orang Betawi asli itu sudah ada sejak zaman purba yang bermukim di sepanjang aliran sungai Ciliwung Jakarta. Namun pendapat lain mengatakan bahwa secara sosiologis, Betawi adalah hasil dari "kosmopolitanisme paksa". Waktu zaman kolonial dulu, Belanda (VOC) mendatangkan banyak sekali orang ke Batavia untuk bekerja. Ada suku Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Ambon, sampai Melayu. Bukan cuma dari Nusantara, ada juga pengaruh dari Tionghoa, Arab, India, Portugis, hingga Belanda sendiri.
Proses ini namanya kreolisasi. Nama "Betawi" sendiri sebenarnya adalah "plesetan" lidah lokal dari kata "Batavia". Dari Batavia berubah jadi Batavi, lalu Batawi, dan akhirnya menetap di kata Betawi.
Apa yang menyatukan mereka? Jawabannya adalah Islam. Agama Islam menjadi "lem" yang merekatkan berbagai suku ini. Ajaran Islam yang menekankan kesetaraan derajat manusia membantu meruntuhkan sekat-sekat etnis asli mereka. Akhirnya, lahirlah sebuah komunitas baru yang punya budaya khas: tegas, blak-blakan, tapi punya toleransi yang sangat tinggi karena memang lahir dari percampuran.
Tapi di sinilah letak paradoksnya. Secara geografis, mereka adalah penduduk asli Jakarta. Tapi secara etnologis, mereka adalah produk urbanisme kolonial. Mereka adalah "pribumi" dari sebuah kota yang memang dirancang jadi titik lebur (melting pot). Status "asli" mereka berbeda dengan suku lain yang punya akar tunggal di wilayah tertentu. Inilah yang nantinya jadi titik lemah mereka saat harus berebut ruang hidup dengan pendatang modern.
2. Karakter "Bodo Amat" tapi Taat
Kalau kita bicara soal karakter, orang Betawi itu dikenal terbuka. Kenapa? Ya karena sejarah mereka memang sejarah orang yang menerima tamu. Sifat terbuka ini diimbangi dengan kepatuhan yang kuat pada adat. Lihat saja acara pernikahan mereka. Ada tradisi Palang Pintu—yang mencampur adu pantun (logika) dengan silat (kekuatan)—serta roti buaya yang melambangkan kesetiaan.
Budaya Betawi itu sangat kaya karena "akulturasi". Contohnya:
Lenong: Teater rakyat yang lucu tapi penuh pesan moral.
Ondel-ondel: Dulunya untuk tolak bala, sekarang jadi ikon kota.
Gambang Kromong: Hasil "kawin silang" alat musik Tionghoa dengan melodi lokal.
Tanjidor: Musik yang terpengaruh gaya Eropa.
Tapi ada sisi lain dari filosofi hidup Betawi yang sering jadi bumerang di era kapitalis sekarang. Ada ungkapan, "Berkat untuk hari ini, esok urusan esok". Gaya hidup santai ini sangat kontras dengan logika Jakarta modern yang menuntut persaingan tanpa henti dan perencanaan jangka panjang. Akibatnya, keterbukaan yang dulu jadi kekuatan, sekarang sering kali membuat mereka kalah saing dengan pendatang yang lebih agresif secara ekonomi.
3. Sang Arsitek Politik dan Emosi Bangsa
Jangan salah, orang Betawi itu bukan cuma jago silat atau jualan nasi uduk. Mereka punya peran raksasa dalam pergerakan nasional. Pada 1923, berdiri organisasi Pemoeda Kaoem Betawi. Ini adalah momen penting karena untuk pertama kalinya istilah "Betawi" dipakai secara resmi di panggung politik.
Waktu Sumpah Pemuda 1928, ada tokoh bernama Mohammad Rochjani Soe’oed yang mewakili pemuda Betawi. Ini bukti kalau kaum Betawi sudah berpikir melampaui batas Batavia. Mereka sadar bahwa kebebasan mereka terikat dengan kebebasan seluruh Nusantara.
Lalu, siapa yang tidak kenal Mohammad Hoesni Thamrin? Beliau adalah "Singa" dari Volksraad (Dewan Rakyat). Thamrin adalah diplomat ulung. Dia bekerja di dalam sistem Belanda, tapi tujuannya satu: kemerdekaan. Dia yang memprakarsai penggunaan istilah "Indonesia" sebagai pengganti kata "Inlander" (pribumi) yang merendahkan. Dia juga yang memperjuangkan agar kampung-kampung di Jakarta dapat saluran air yang layak.
Kalau Thamrin membangun pilar politik, Ismail Marzuki membangun pilar emosional. Putra Betawi asal Kwitang ini menciptakan lagu-lagu seperti "Rayuan Pulau Kelapa", "Halo-Halo Bandung", dan "Gugur Bunga". Melalui melodi, Marzuki membuat orang dari Aceh sampai Papua bisa "merasakan" Indonesia itu ada. Revolusi kita bukan cuma soal senjata, tapi juga soal budaya dan perasaan, dan orang Betawi ada di jantungnya.
4. Ulama dan Jawara: Duet Maut di Medan Tempur
Saat revolusi fisik pecah (1945-1949), perlawanan rakyat Betawi digerakkan oleh dua pilar: Ulama dan Jawara. Ulama memberikan legitimasi spiritual (jihad), sementara Jawara memberikan kekuatan fisik dan taktis di lapangan. Seringkali, satu orang punya dua peran ini sekaligus.
Siapa yang tidak merinding mendengar nama K.H. Noer Ali dari Bekasi? Dia dijuluki "Singa Karawang-Bekasi". Lalu ada Haji Darip dari Klender yang disebut "Panglima Perang Klender". Mereka memobilisasi laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bagi Belanda, mereka mungkin dicap "bandit" atau "pengacau", tapi bagi rakyat, mereka adalah pembela.
Seni bela diri seperti Silat Beksi jadi senjata utama. Perpaduan antara otoritas agama dan kekuatan fisik ini membuat pasukan Sekutu dan Belanda pusing tujuh keliling saat mencoba menguasai wilayah pinggiran Jakarta. Sayangnya, setelah merdeka, peran laskar-laskar independen ini perlahan meredup karena kebutuhan negara untuk membentuk tentara resmi yang terpusat. Para Jawara yang tadinya pahlawan, perlahan kehilangan pengaruh politiknya di masa damai.
5. Tragedi "Tuan Tanah" yang Kehilangan Tanah
Setelah merdeka, Jakarta dibangun secara masif, terutama di zaman Gubernur Ali Sadikin. Jakarta jadi megapolitan, tapi penduduk aslinya justru terpinggirkan. Modernisasi menuntut penggusuran kampung-kampung untuk jadi jalan tol atau gedung kantor.
Di sinilah siklus sedih itu bermula. Banyak orang Betawi yang punya pendidikan formal rendah (akibat sikap antipati terhadap sekolah Belanda dulu) kesulitan bersaing di sektor formal. Karena butuh uang cepat, banyak yang menjual tanah warisannya. Uangnya seringkali habis untuk kebutuhan konsumtif atau naik haji, sementara aset produktifnya hilang.
Efeknya? Terjadi pergeseran demografis. Orang Betawi terdesak ke pinggiran: Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Mata pencaharian tradisional seperti berkebun buah (seperti di Condet) hilang ditelan beton. Sekarang, banyak dari mereka yang bertahan di Jakarta hanya mengandalkan pendapatan dari "kontrakan" atau bekerja di sektor informal. Inilah yang disebut "kekerasan struktural"—kemajuan kota dicapai dengan menumbalkan penduduk aslinya.
6. Komodifikasi Budaya: Kasus Ondel-ondel
Masalah Betawi bukan cuma soal perut, tapi juga soal harga diri budaya. Saat ini kita sering melihat Ondel-ondel dipakai untuk mengamen di lampu merah. Bagi budayawan Betawi, ini menyedihkan. Ondel-ondel yang dulu sakral untuk tolak bala, sekarang turun kasta jadi alat cari receh.
Begitu juga dengan tradisi Palang Pintu yang kadang direduksi jadi sekadar atraksi lucu-lucuan buat tamu undangan, tanpa makna mendalam. Ini adalah dampak dari kemiskinan. Orang terpaksa menggunakan simbol budayanya untuk bertahan hidup. Kalau ekonomi mereka mapan, tentu mereka tidak akan membawa Ondel-ondel keliling jalanan untuk minta-minta. Jadi, masalah budaya ini sebenarnya adalah masalah ekonomi yang "nyaru".
7. Menyongsong Jakarta Pasca-Ibu Kota: Peluang atau Ancaman?
Sekarang kita sampai di titik balik sejarah: Pemindahan Ibu Kota ke Nusantara (IKN). Apa dampaknya buat Betawi?
Ada dua kemungkinan. Pertama, ancaman ekonomi. Kalau Jakarta kehilangan status ibu kota dan gagal jadi pusat bisnis global, ekonomi Jakarta bakal lesu. Ini bisa memperparah kemiskinan warga lokal.
Tapi kemungkinan kedua lebih menarik: Renaisans Budaya. Selama ini, identitas Jakarta selalu tertutup oleh label "Miniatur Indonesia" atau "Ibu Kota Negara". Nah, saat pusat pemerintahan pindah, Jakarta punya ruang untuk menegaskan kembali identitas lokalnya. Ada wacana untuk mengubah nama provinsi jadi Provinsi Betawi. Inilah kesempatan bagi budaya Betawi untuk jadi "tuan rumah" yang sesungguhnya—bukan lagi cuma sekadar hiasan di acara seremonial.
8. Apa yang Harus Dilakukan? (Sebuah Rekomendasi)
Kita tidak bisa membiarkan Betawi cuma jadi artefak di museum atau diorama di Setu Babakan. Setu Babakan itu bagus, tapi seringkali jadi "museumifikasi"—budaya cuma indah di satu tempat, tapi mati di tempat lain.
Pemerintah Jakarta perlu melakukan beberapa hal strategis:
Berdayakan Sanggar di Akar Rumput: Beri dana langsung ke sanggar-sanggar kecil di perkampungan, bukan cuma buat festival besar setahun sekali. Mereka adalah garda terdepan transmisi budaya.
Kurikulum Sekolah: Bahasa dan budaya Betawi jangan cuma jadi formalitas muatan lokal. Harus diajarkan secara serius dan menarik buat anak muda.
Ekonomi Berbasis Budaya: Jangan cuma suruh mereka melestarikan tarian, tapi beri akses permodalan dan pelatihan bisnis agar produk budaya (seperti kuliner kerak telor atau bir pletok) bisa jadi bisnis yang menguntungkan.
Tata Ruang yang Berpihak: Lindungi sisa-sisa kampung Betawi. Jangan semuanya diubah jadi apartemen. Kampung adalah ruang hidup di mana budaya itu bernapas.
Penutup: Paradoks Pahlawan yang Terpinggirkan
Masyarakat Betawi adalah bukti nyata dari pluralisme Indonesia. Mereka adalah "anak kandung" Jakarta yang memberikan segalanya untuk bangsa ini—dari lagu perjuangan sampai darah di medan revolusi. Sungguh sebuah ironi kalau hari ini mereka merasa asing di rumah sendiri.
Masa depan Betawi bukan cuma urusan orang Betawi saja, tapi urusan kita semua yang mencari nafkah di tanah Jakarta. Menjaga Betawi tetap hidup berarti menjaga jiwa Jakarta agar tetap punya karakter, bukan cuma kumpulan beton tak bernyawa. Semoga di era pasca-IKN nanti, "Si Empunya Jakarta" ini benar-benar bisa berdiri tegak, bukan lagi sebagai penonton, tapi sebagai aktor utama di kota global masa depan.
Sumber Referensi:
Laporan Penelitian: Peran Historis dan Kondisi Kontemporer Masyarakat Betawi di Persimpangan Jalan.
Sejarah Etnogenesis Betawi (Lance Castles & Ridwan Saidi).
Profil Tokoh Nasional: M.H. Thamrin & Ismail Marzuki.
Perda No. 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.



Comments