Rapor PISA 2025 Pelajar Indonesia: Skor Masih Ujian Mental, tapi Karakter Juara
Python
Setiap kali Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis hasil PISA (Programme for International Student Assessment), linimasa pendidikan kita mendadak ramai. Dokumen resmi bertajuk PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students akhirnya resmi dipublikasikan dan membawa potret utuh tentang posisi remaja Indonesia usia 15 tahun di kancah global.
Jika dilihat sekilas, angka-angka nilai kita masih menyimpan pekerjaan rumah yang berat. Namun, kalau kita membedah laporan ini lebih dalam, ada dinamika menarik: di balik skor akademik yang masih berjuang, pelajar Indonesia menunjukkan resiliensi, kedekatan dengan guru, serta kepedulian lingkungan yang luar biasa tinggi dibanding rata-rata dunia.
Angka Bicara: Rapor Skor Pelajar Indonesia
PISA 2025 menguji performa siswa dalam tiga literasi utama—sains, membaca, matematika—ditambah domain baru yang sangat relevan dengan zaman modern, yakni computational problem solving (pemecahan masalah komputasi).
Berdasarkan data resmi laporan Volume I, berikut adalah capaian rerata siswa Indonesia:
Bidang Uji | Rata-rata Skor Indonesia (2025) | Perubahan dari PISA 2022 | Rata-rata Negara OECD |
Sains (Science) | 389 | Naik +6 poin | 481 |
Membaca (Reading) | 365 | Naik +7 poin | 472 |
Matematika (Mathematics) | 364 | Turun -2 poin | 468 |
Problem Solving Komputasi | 427 | (Domain baru) | 487 |
Secara jangka pendek (2022 ke 2025), skor sains dan membaca Indonesia mengalami rebound positif masing-masing naik 6 dan 7 poin, sementara matematika sedikit terkoreksi 2 poin. Menariknya, pada bidang computational problem solving, skor Indonesia menembus angka 427—jauh melompat dibanding capaian matematika maupun sains dasarnya.
Kendati demikian, tantangan struktural masih sangat nyata:
Mayoritas masih di tingkat dasar: Sebanyak 60,9% pelajar Indonesia tercatat masih berada di bawah Level 2 (kategori low performers) untuk ketiga bidang dasar secara simultan.
Kelompok papan atas (top performers): Siswa yang berhasil menembus Level 5 atau 6 di Indonesia baru mencapai 0,1%.
Kesenjangan gender: Siswa perempuan unggul signifikan atas siswa laki-laki pada kemampuan membaca dengan selisih 24 poin (377 vs 353), dan unggul tipis di sains (391 vs 386) serta matematika (367 vs 361).
Di Balik Angka: Mental Baja dan Karakter Khas Gen Z Indonesia
Skor tes kognitif memang penting, tetapi PISA 2025 mendedikasikan porsi besar untuk meneliti aspek psikologis, sikap belajar (learning attitudes), dan lingkungan sosial siswa. Di sinilah pelajar Indonesia justru mencuri perhatian OECD dengan performa karakter yang patut diacungi jempol:
1. Mental Pantang Menyerah Tertinggi di Dunia
Ketika di banyak negara maju (32 sistem pendidikan) motivasi siswa mengalami penurunan, Indonesia bersama Malaysia justru dinobatkan sebagai negara dengan lonjakan tertinggi siswa yang mengerahkan daya juang ekstra saat menghadapi pelajaran sulit. Remaja kita memiliki grit dan resiliensi alami: tugas yang menantang tidak langsung membuat mereka menyerah.
2. Ikatan Erat dan Apresiasi terhadap Guru
Di tengah maraknya isu krisis hubungan murid-guru di ruang publik, temuan PISA 2025 justru berkata lain. Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan peningkatan persepsi dukungan guru (teacher support) paling drastis di dunia, sejajar dengan Korea Selatan, Jepang, dan Vietnam. Murid-murid di Indonesia merasa gurunya benar-benar peduli, siap mendampingi, dan memberikan bimbingan personal saat mereka menemui kebuntuan materi pelajaran.
3. Generasi Sadar Lingkungan (Eco-Conscious)
Laporan ini juga mencatat bahwa lebih dari 90% pelajar di Indonesia dan Vietnam memiliki kepedulian tinggi dan ingin berkontribusi aktif dalam pelestarian lingkungan hidup. Isu krisis iklim bukan sekadar wacana teoritis di kelas, melainkan sudah menjadi bagian dari kesadaran generasi muda kita.
Realitas yang Harus Dibenahi: Pesimisme Mobilitas dan Kesenjangan
Kendati memiliki daya juang tinggi, laporan PISA 2025 menyisakan satu catatan reflektif yang cukup mengharukan.
Dalam instrumen survei terbaru mengenai persepsi mobilitas sosial (social mobility), kurang dari 40% pelajar di Indonesia yang percaya bahwa status sosial mereka di masa depan bisa diubah lewat kerja keras. Bersama Thailand dan Filipina, sebagian besar anak-anak kita cenderung merasa status sosial ekonomi keluarga adalah takdir yang sulit ditembus.
Data ini diperkuat dengan fakta kesenjangan: selisih skor sains antara kelompok siswa paling beruntung secara ekonomi (advantaged) dan siswa dari keluarga rentan (disadvantaged) di Indonesia masih membentang sebesar 64 poin (392 berbanding 328). Ketika anak-anak berprestasi dari keluarga prasejahtera merasa sistem belum tentu berpihak pada mereka, jalan menuju masa depan yang adil masih menuntut perbaikan sistemik yang masif.
Menatap Masa Depan: Modalitas yang Sudah Tepat Sasaran
Laporan PISA 2025 membuktikan bahwa narasi pendidikan Indonesia bukan sekadar hitam-putih "ranking bawah". Ada fondasi emas yang sudah terbangun kokoh di ruang-ruang kelas kita: daya juang murid yang tinggi, relasi hangat dan suportif dengan para guru, serta kepekaan sosial terhadap kelestarian bumi.
Tantangan ke depan adalah bagaimana mengonversi modal mentalitas juara dan kehangatan ruang kelas ini menjadi keterampilan literasi kritis dan penalaran mendalam. Jika kurikulum, pemerataan fasilitas belajar, dan pelatihan literasi nalar terus didorong, generasi muda Indonesia jelas punya bahan bakar yang lebih dari cukup untuk menjadi future-ready learners seutuhnya.



Comments